Apa Itu Dewa Dewi Dalam Paganisme

“Wahai Ratu surga, Raja neraka, Pemburu malam yang bertanduk – Pinjamkanlah kekuatanmu pada mantra yang kami lepaskan Dan kerjakan kehendak kami melalui ritual sihir ini.”

Itu adalah kutipan dari banyak afirmasi yang dilakukan oleh para penyihir saat melakukan ritualnya.

Para penyihir percaya pada polaritas energi prinsip Feminim dan Maskulin di alam semesta.

Pada umumnya kita percaya bahwa Dewa-Dewi memiliki aspek energi perempuan dan laki-laki yang eksis bersama untuk menjaga keseimbangan alam agar tetap harmonis.

Keyakinan ini terbukti dalam segala hal yang dilakukan Penyihir.

Kita dapat melihatnya dalam bentuk seni sihir yang mereka kerjakan, bagaimana mereka mengatur sedemikian rupa altar mereka, bagaimana mereka menghormatin ritus dan ritual yang dikerjakan dan merayakan setiap perubahan alam yang terjadi.

Pandangan ilmu sihir tentang sifat ketuhanan yang seimbang bertentangan dengan agama-agama lain. Banyak agama mayoritas cenderung mengecilkan atau mengabaikan aspek energi feminim sama sekali. Anda dapat melihat contohnya dalam Agama Abrahamik atau Yudaisme dimana dalam sistem kepercayaan mereka perempuan cenderung memiliki peran yang sangat kecil didalamnya.

Bagi para Penyihir, ketegangan kreatif dinamis antara perempuan dan laki-laki adalah bagian dari apa yang dapat disebut sebagai teori umum polaritas, di mana segala sesuatu bergantung pada hal-hal yang berlawanan untuk keberadaan mereka.

Konsep siang dan malam, gelap dan terang, isi dan bentuk, positif dan negatif, tarik-menarik dan tolak-menolak, Utara dan Selatan, atas dan bawah, masing-masing membutuhkan yang lain agar kebalikannya ada.

Sikap ini dapat diungkapkan dengan mengacu pada konsep Cina tentang Yin dan Yang. Yin adalah aspek penciptaan perempuan, negatif, gelap di mana Yang adalah aspek laki-laki, positif, terang. Bersama-sama mereka menjadi satu kesatuan.

Perlu dicatat di sini bahwa istilah “negatif” dan “gelap” tidak digunakan dalam pengertian yang merendahkan. “Negatif” harus dilihat dengan cara yang sama seperti sains mengacu pada elektron yang memiliki muatan negatif dan gelap hanya sebagai kebalikan dari cahaya; mereka bukan penilaian dalam satuan nilai.

Juga harus diperhatikan bahwa pada lambang Yin-Yang bagian hitam berisi titik putih dan bagian putih memiliki titik hitam, hal ini menunjukkan bahwa pada perempuan ada juga energi maskulin, dan pada laki-laki juga ada energi feminim.

Dalam interaksi energi di semua tingkatan, apakah itu ilahi atau duniawi, memastikan aliran siklus penciptaan. Para penyihir percaya bahwa penekanan berlebihan pada satu energi, dapat mengorbankan yang lain, dan dapat dipastikan hal itu hanya menghasilkan kemandulan dan stagnasi.

Konon, penekanan energi yang diberikan kepada Dewi dan Dewa bervariasi dalam setiap tradisi dan kelompok yang berbeda.

Untuk dewa dalam kepercayaan Wiccan memiliki sifat imanen, artinya Dewa-Dewi dapat ditemukan dalam segala hal dan meliputi segala bentuk eksistensi. Secara harfiah, Semesta dianggap hidup dan setiap individu hanyalah satu sel dalam tubuhnya (Dewa-Dewi) yang sangat besar.

Karena itu, bagi penyihir segala sesuatunya sangat sakral, dan ini membuat para Penyihir memiliki rasa hormat yang sangat besar terhadap semua ekspresi kehidupan. Di sisi lain, banyak Penyihir menganggap sifat tertinggi dewa sebagai yang tidak dapat diketahui, melampaui semua nama dan bentuk dan mungkin melampaui semua pemahaman manusia. Dalam hal ini, dapat disebut sebagai sifat transenden.

Umumnya, Penyihir percaya bahwa dewa dan dewi adalah perwakilan dari jenis energi tertentu dalam eksistensi. Mereka (Dewa Dewi) ialah energi itu sendiri yang memiliki eksistensi.

Penggambaran mengenai Dewa Dewi yang memiliki rupa-rupa tertentu ialah sebuah upaya bagi para penyihir agar dapat memahami mereka menggunakan pemikiran manusia. Kalau begitu, mengapa tidak menggunakan bahasa sains untuk mengekspresikan kekuatan-kekuatan ini? Ada beberapa alasan mengapa Penyihir tidak melakukan ini.

Pada suatu tingkat para penyihir merasa bahwa sains hanya memberikan sebagian jawaban atas pertanyaan tentang sebuah eksistensi, mereka percaya bahwa masih ada banyak hal di dalam Semesta yang belum kita ketahui.

Lebih jauh lagi dalam bahasa sains para ilmuwan gagal menjelaskan atau mengekpresikan kekuatan-kekuatan ini kepada jiwa manusia (sesuatu yang masih diragukan oleh banyak ilmuwan bahwa ini ada).

Spirit kita berkembang dengan penggunaan citra puitis dan simbolis yang umumnya mempengaruhi kita dengan cara yang lebih mendalam daripada yang bisa dilakukan oleh sains.

Anda tidak mungkin membaca ilmu tentang seks untuk mengetahui apa itu cinta. Namun sebaliknya, Anda mungkin akan membaca buku Shakespeare mengenai cinta.

Demikian pula, untuk pertanyaan tentang tujuan dan makna hidup kita, Anda tidak dapat berkonsultasi dengan buku yang berisi tentang biologi manusia dan mendapatkan jawaban yang memuaskan untuk jiwa anda, walaupun hal itu mungkin dapat memuaskan intelektualitas anda.

Faktanya adalah banyak manusia yang benar-benar tergerak dan termotivasi oleh berbagai gambaran dewa dewi, dan merasa bahwa mereka telah mencapai pemahaman yang lebih mendalam tentang eksistensi diri karena mereka.

Lebih jauh lagi, menggunakan perumpamaan gambaran semacam itu membuat energi mereka (Dewa Dewi) dapat dirasakan sampai batas tertentu dan memungkinkan para individu untuk bekerja dengannya dalam kehidupan mereka di dunia material.

Arketipe

Meskipun tidak didukung oleh setiap Penyihir, gagasan mengenai gambaran para dewa dan dewi dapat terlihat memiliki kemiripan dengan gagasan Carl Jung tentang Arketipe.

Bagi Jung, Arketipe adalah simbol-simbol kuat yang memiliki energi kehidupan.

Mereka ada dalam ketidaksadaran kolektif manusia, independen (berdiri sendiri) dari pikiran setiap individu manusia, dan dapat mencakup arketipe dewa dan dewi. Jung percaya bahwa Arketipe ini dapat digunakan untuk memiliki efek di dunia nyata sehari-hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *